26 Mei 2026

Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Program Studi dan Ikatan Alumni Magister Ilmu Pendidikan Kedokteran & Kesehatan FK Unhas: Memaknai “Kutiba” dan “Marhaban” di Bulan Ramadan

Makassar, 2 Maret 2026 – Program Studi bersama IKA Magister Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan (S2 IPKK) FK Unhas menyelenggarakan kegiatan Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan. Kegiatan ini menjadi ruang temu antara sivitas akademika dan alumni dalam suasana kebersamaan, refleksi spiritual, serta penguatan nilai-nilai akademik dan keislaman.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi dan Alumni, Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, M.KM; Ketua Departemen Pendidikan Kedokteran, dr. Bau Dilam Ardyansyah, M.BSc., MHPE., Ph.D.; Ketua Program Studi IPKK, Dr. dr. Irwin Aras, M.Epid., M.MedEd; Ketua IKA, Dr. dr. Syarif, Sp.U, Subsp.And(K), MHPE; serta dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan di lingkungan FK Unhas.

Acara diawali dengan ceramah Ramadan yang disampaikan oleh Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.MedEd., dosen senior FK Unhas, yang mengangkat tema pemaknaan kata “Kutiba” dalam Surah Al-Baqarah ayat 183–187 serta makna “Marhaban” dalam ungkapan “Marhaban ya Ramadan”.

Dalam pemaparannya, Prof. Budu menjelaskan bahwa kata “kutiba” dalam ayat “Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām…” bermakna “diwajibkan” atau “ditetapkan secara pasti”. Namun, menurut beliau, diksi tersebut tidak sekadar menunjukkan kewajiban normatif, melainkan juga mengandung dimensi ketetapan ilahiah yang sarat hikmah dan tujuan pembinaan.

“Kata ‘kutiba’ mengisyaratkan bahwa puasa bukan hanya kewajiban hukum, tetapi prescription spiritual, sebuah resep ilahiah untuk membentuk ketakwaan,” jelas Prof. Budu, merujuk pada lanjutan ayat “la‘allakum tattaqūn” yang menegaskan orientasi puasa sebagai sarana transformasi moral dan pengendalian diri.

Beliau juga menguraikan bahwa ayat 183–187 Surah Al-Baqarah tidak hanya mengatur kewajiban menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjelaskan dimensi waktu, keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan, serta etika hubungan suami-istri selama Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa syariat puasa bersifat komprehensif, proporsional, dan memperhatikan aspek kemanusiaan.

Selain itu, Prof. Budu mengulas makna kata “Marhaban” yang berasal dari akar kata yang bermakna kelapangan dan keluasan. “Marhaban ya Ramadan” dimaknai bukan sekadar sapaan seremonial, tetapi sebagai kesiapan hati untuk menyambut bulan suci dengan kelapangan jiwa dan komitmen perbaikan diri. Ramadan, menurut beliau, harus diposisikan sebagai momentum rekonstruksi spiritual dan etika sosial, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Dalam konteks akademik dan kedokteran, Prof. Budu menekankan relevansi nilai-nilai Ramadan terhadap integritas profesional. Disiplin puasa melatih kontrol diri, empati, serta kejujuran, nilai yang fundamental dalam praktik kedokteran dan kesehatan masyarakat. Ramadan, lanjutnya, menjadi laboratorium moral yang membentuk karakter tenaga kesehatan yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan.

Kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Momentum ini tidak hanya mempererat hubungan antar sivitas akademika dan alumni, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam pengembangan pendidikan dan pengabdian di bidang ilmu kedokteran dan kesehatan.

Melalui kegiatan ini, Prodi dan IKA S2 IPKK FK Unhas menegaskan bahwa penguatan spiritual dan pengembangan akademik dapat berjalan selaras. Ramadan menjadi titik temu antara refleksi keimanan dan dedikasi profesional, dalam semangat kebersamaan dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.